andaikan hari ini datanglah kabar betapa hati ini mulai mekar seakan bunga-bunga sedang berkembang ditiup angin pagi nan mesra apa mungkin akan tiba dengan hati penuh rindu melupakan nestapa yang t’lah lalu andaikan hari ini datanglah engkau ku sambut dengan bunga untukmu 
suatu hari disuruh bikin tebak lagu lagu ini termasuk yang rencananya masuk list tebakan tapi .... lagunya inget, judulnya lupa terpaksa dicoret dari daftar ...  kacian deh aku ....  Andaikan kau datang Koes Plus / Ruth Sahanaya terlalu indah dilupakan terlalu sedih dikenangkan setelah jauh aku berjalan dan kau kutinggalkan
betapa hatiku bersedih mengenang kasih dan sayangmu setulus pesanmu kepadaku engkau kan menunggu
(chorus) andaikan kau datang kembali jawaban apa yang kan kuberi adakah jalan yang kau temui untuk kita kembali lagi
bersinarlah bulan purnama seindah serta tulus cintanya bersinarlah terus sampai nanti lagu ini ku akhiri
 | andaikan | Jul 21, '08 11:44 PM for everyone |
IF If a picture paints a thousand words, then why can't I paint you? The words would never show, the you I've come to know . . .
If a face could launch a thousand ships, then where am I to go? There's no one home but you, you're all that's left me to . . .
And when my love for life is running dry, You come and pour yourself on me . . .
If a man could be two places at one time, I'd be with you, tomorrow and today, beside you all the way . . .
If the world should stop revolving, Spinning slowly down to die, I'd spend the end with you when the world was through . . .
Then one by one the stars would all go out . . . Then you and I would simply fly away! (rengeng-rengeng nyanyi - boss gak ada ini :D)
 | my way | Jul 21, '08 10:54 PM for everyone |
  MY WAY by: Frank Sinatra And now, the end is near; And so I face the final curtain. My friend, I’ll say it clear, I’ll state my case, of which I’m certain. I’ve lived a life that’s full. I’ve traveled each and ev’ry highway; And more, much more than this, I did it my way.
Regrets, I’ve had a few; But then again, too few to mention. I did what I had to do And saw it through without exemption. I planned each charted course; Each careful step along the byway, But more, much more than this, I did it my way.
Yes, there were times, I’m sure you knew When I bit off more than I could chew. But through it all, when there was doubt, I ate it up and spit it out. I faced it all and I stood tall; And did it my way.
I’ve loved, I’ve laughed and cried. I’ve had my fill; my share of losing. And now, as tears subside, I find it all so amusing. To think I did all that; And may I say - not in a shy way, No, oh no not me, I did it my way.
For what is a man, what has he got? If not himself, then he has naught. To say the things he truly feels; And not the words of one who kneels. The record shows I took the blows - And did it my way! (that’s is my favorite)
 | zzzzz | Jul 21, '08 3:43 AM for everyone |
jumat, minggu lalu, di kantor, habis ‘olah raga’ dansa, rasanya kok nguantuk sekali.  pulang kantor, di mobil rasanya pengin tidur. mau merem kok kasian ’sopirku sayang’ - gak ada yang nemenin ngobrol sampai di rumah, ngantuknya kok ya gak ilang. tapi mau tidur kok ’saru’, masih sore, masih belum pantes untuk tidur malam habis makan sayur & buah, aku mandi – agak seger. merasa segar, aku duduk di depan computer. eee, menatap layar computer membuatku ‘liyer-liyer’ kembali. mata udah gak kuat. aku masuk kamar jam 20:00, setel tv – niatnya mau nonton, tapi …. zzzzz….zzzzz….zzzzz  terbangun pertama jam 2:30am, melirik jam, lanjut tidur lagi. terbangun kedua jam 4:30. agak seger, tapi berpikir: ‘ini kan sabtu, libur’ – lanjut tidur lagi. jam 6:30 aku dibangunin: ”mim bangun, udah setengah tujuh. katanya mau pijet jam tujuh.” wuih, rasanya masih malas, masih kepengin tidur lagi. tapi harus bangun, karena sebentar lagi parmi, tukang urutku, dateng. sambil minum teh, aku hitung berapa jam aku tidur ..... waaaa.... ternyata 10 jam! tidur terlama buatku. cream-bath, pijat-urut dan scrubbing selesai jam 12:15. luaper..... langsung makan. habis makan baru mandi, keramas lagi. rambut belum kering kok udah ngantuk lagi .... tidur lagi dari jam 14:00 sampai jam 16:30! puas tidur deh .... 10 jam + 2.5 jam = 12.5 jam .... puas-puas-puas ... hari minggu ada temen bilang - "kok seger banget sih hari ini" hehehehe... ya jelas toh... wong tidurnya lebih dari cukup ... 
  aku lagi duduk di teras tiba-tiba aku lihat reruntuhan gedung-gedung bertingkat yang porak-poranda tidak karuan aku bilang ke mbakyuku: ”lho, gedung-gedung kok pada ambruk” dijawab: “lho, kan sudah ada ramalannya.“  tiba-tiba tanah yang aku pijak bergetar disertai suara keras benda-benda berjatuhan ternyata, gedung tinggi disamping dan dibelakang rumah roboh aku tutup kuping dan mata, karena takut  setelah agak reda, aku berjalan kelorong teras aku melongok keluar ya ampun, tanah masih bergoyang dan tanah menjadi seperti bubur dodol meletup-letup dan berasap dalam ketakutan aku panggil mbakyuku  tak lama kemudian tanah yang bergejolak reda semua tenang, hanya dimana-mana reruntuhan didepan rumah banyak orang duduk-duduk dengan muka ketakutan atas peristiwa yang baru terjadi ”untung gak ada korban jiwa”, aku mendengar tiba-tiba .... thok-thok-thok ...... thok-thok-thok …. aku liat ke jam dinding ….. hah…. jam 4:40 ….. kesiangan nih ……aku cepat-cepat bangun … untung hanya mimpi kalau beneran, aku mungkin gak bangun lagi 
The Payangan Hideaway Monday, June 23, 08 Bebas. Bener-bener bebas. Setelah ‘menyelam’ di Amuk Bay, kini saatnya ‘menyepi’. Kami akan menyepi 3 hari 2 malam di The Payangan Hideaway (TPH). Mobil operasional TPH menjemput kami di Hard Rock Hotel kira-kira jam 05:00pm. Sopirnya namanya mas Febri.  Nama ‘hideaway’ benar-benar cocok. Benar-benar tersembunyi dan jauh dari keramaian. Dari jalan raya Kintamani, kira-kira 2km masuk jalan pedesaan yang naik turun, melalui perkebunan pisang batu … dan siapa sangka, dibaliknya rimbunnya kebun pisang batu ada sebuah peristirahatan yang menyenangkan. Cocok sekali untuk honeymooners, mereka-mereka yang suka ketenangan, kesunyian, kedamaian dan alam. Perjalanan dari Kuta ke Payangan kira-kira 1.5 jam. Sampai di Payangan sudah gelap, sudah jam 6:30pm. Di tempat parkir kami disambut pak satpam, tukang kebun dan Meri. Barang-barang kami dibawa oleh mereka menuruni tangga yang cukup banyak, dan mereka seolah-olah membawa barang yang ringan. Sampai di lobby kami disambut oleh ibu Ayu, pengurus villa, yang segera menghidangkan teh panas dan sepiring pisang goreng tabur gula halus. Wadhuh, nikmat sekali. Pisangnya ‘gempi’ dan manis asli. Ketika kami menyatakan akan segera ke kamar, bu Ayu menahan kami untuk sekalian makan malam sebelum masuk kamar. Nasi goreng istimewa, pakai telor ceplok, sosis, dan kerupuk. Enak. Sesudah makan, bu Ayu, Meri dan tukang kebun mengantar kami ke kamar. Turun melewati tangga putar yang ada di kanan-kiri lobby, melewati kolam renang, turun lagi beberapa anak tangga, barulah sampai di villa P adma. Kami harus turun pelan-pelan. Walaupun sepanjang tangga turun dipasang lampu, tapi kami tetap ‘cenunukan’. Para pekerja TPH jalannya cepat sekali, mungkin sudah biasa naik turun ….  Kami sebetulnya memesan bungalow JEPUN, tapi oleh pemilik kami di beri PADMA, dengan harga yang sama dengan JEPUN! Yang paling aku sukai, kamar berlantai kayu Hampir separo dinding kamar adalah kaca. Apabila gordijn dibuka, bisa langsung menikmati pemandangan alam. Tempat tidur kingsize terletak ditengah-tengah, membelakangi ‘lorong’ menuju kamar mandi. Lemari untuk menaruh baju ada di lorong tersebut. Di kanan tempat tidur ada meja tulis, sedangkan di sebelah kiri sofa-bed, dan tv ada di depan tempat tidur. Setelah beres-beres barang, kami mandi, tidur-tiduran sambil nonton tv, sambil mendengarkan suara concert alam - kodok yang bersahut-sahutan, sampai tertidur. Malam pertama di Payangan Tuesday, June 24, 2008  Jam 5:30am – saat ‘terang tanah’, aku bangun, berdoa, minum air putih biar segar dan keluar kamar. Wuih, ternyata udara di luar lebih dingin daripada ‘udara’ kamar yang ber-ac. Matahari belum naik, baru mulai mengintip di celah-celah daun. Aku duduk di teras sambil menikmati suara burung yang menggantikan paduan suara kodok. Tenang sekali hati ini… Tak tahan hanya duduk saja, aku mengambil my beloved Kodak easyshare v-550 plus tripod. Photo sana-sini, photo ‘diri’. Aku bangunin mas Agni untuk ikut menikmati suasana, tapi katanya: “Nanti dulu ach, tunggu matahari naik dulu. Sinarnya belum bagus untuk photo.” Lho ….ya gak usah photo-photo dulu to. Yang penting menikmati ‘pagi yang indah sekali’ (lagunya Kus Plus). Ya sudah aku jalan-jalan sendiri ke bawah. Agak kebawah ada ‘rumah-rumahan kecil’. Ternyata itu adalah ‘outdoor lift’. Didalamnya ada 3 tiga tombol bulat hijau bertuliskan 1, 2, 3 yang menunjukkan lantai, serta tombol on-off. Pengin nyoba turun pakai lift tersebut, tapi agak ragu-ragu takut salah.  Eee… akhirnya mas Agni bangun juga dan nyusul turun dengan membawa camera. Belum jauh kami turun, bu Ayu panggil-panggil. Ternyata bu Ayu dan Meri turun membawa sarapan. Terpaksa aku kembali ke bungalow, sementara mas Agni tetap jalan turun. Sarapan pagi kami adalah: roti lapis telor dan keju, ditemani secangkir kopi Bali. Aku panggil mas Agni untuk sarapan, tapi mas Agni malah menyuruh aku turun. Bersama-sama bu Ayu aku turun pakai lift (jadi aku tau cara meng-operasi-kan). Sampai di bawah bu Ayu naik lagi, tapi segera mengirim lift kembali ke bawah …. Kira-kira 15 menit kemudian, kamipun naik untuk sarapan. Sehabis sarapan, kami naik ke kolam renang, potret-potret, tidur-tiduran di balai bengong. Kami betul-betul menikmati hari yang tenangggggggg…………….. Sedang enak-enaknya santai, mas Gatot telpon menanyakan: “Sudah turun ke pura yang ada air sucinya belum? Deket kok. Turun terus, ikuti tangga batu sampai habis – puranya ada disitu, di pinggir sungai Ayung. Ambil airnya, katanya berkasiat sembuhkan segala penyakit.” OK – kami bersiap-siap turun. Berjalan turun sampai di lift – turun pakai lift sampai di Cempaka bungalow – disambung jalan turun pelan-pelan. Anak tangga demi anak tangga kami lalui dan akhirnya sampailah kami dibawah, dipinggir sungai Ayung, ditempat pura kecil yang ada mata air suci-nya. Ternyata memang harus ke tempat ini. Tenang sekali tempatnya. Setelah mengambil air yang sejuk, bening dan bersih di mata air, kami duduk-duduk di balai bengong, cuci-cuci tangan, cuci-cuci muka – siapa tau jadi tambah muda hehehe … Nah, saatnya kembali keatas … untuk yang satu ini diperlukan kesabaran, ketekunan dan nafas yang panjang. Jalan pelan-pelan ke atas – berhenti – atur nafas – jalan lagi pelan-pelan, berhenti, atur nafas… terus… hingga sampai di lift … akhirnya sampai dikamar.  Jam 11:30 pak Febri datang. Siang ini kami akan ke pasar Ubud sekalian cari makan siang. Makan apa ya? Bebek Bengil sudah makan dua hari lalu bareng-bareng sama orang kantor. Aku mengusulkan makan di Warung Murni deket museum Le Majeure(?). Tapi pak Febri mengusulkan makan di nasi campur ayam Kadewatan yang terkenal enak. OK, akhirnya kami makan disitu. Ternyata memang enak, walaupun agak pedas.  Dengan perut kenyang kami meneruskan perjalanan ke pasar Ubud. Aku cari ‘telor lukis’ dari kayu. Ternyata, kayaknya, diseluruh pasar Ubud hanya ada satu toko yang menjualnya. Kalung dari kayu pun, yang jualan hanya satu tempat. Kami tidak lama di Ubud, karena kepengin menikmati sore hari di Payangan. Sampai di TPH, aku tidak kepengin tidur. Jadi membawa buku, tidur-tiduran di balai bengong sambil minum kopi, sementara mas Agni molor. Sampai matahari hilang, aku baru masuk kamar. Mas Agni lagi download photo-photo ke laptop. Sekitar jam 7:00pm bu Ayu dan Meri membawa makan malam! Wouw, rasanya masih kenyang, tapi karena sudah disiapkan, kami makan juga: steak dada ayam, kentang goreng dan salad sayuran. Setelah makan aku mulai packing. Setelah semua rapi, baru aku mandi dan siap tidur sambil nonton tv. Wednesday, June 25, 2008 Jam 7:00am kami sudah siap di lobby untuk sarapan. Pak Febri akan menjemput kami jam 8:00 untuk ke airport. Sarapan kami pagi ini adalah roti, scramble egg dan keju parut. Minumnya kopi Bali. Jam 8:00 kurang sedikit, pak Febri datang. Setelah barang-barang dinaikkan ke mobil, kami meninggalkan TPH. Dalam perjalanan menuju airport, kami mampir di Celuk, ke toko oleh-oleh Putri Bali, beli kacang manis, kacang keju dan kacang asin. Jalanan mulai rame – penuh dengan bis-bis turis yang mau nonton barong di Batu Bulan dan naik ke Kintamani… musim liburan sekolah sih ….. Akhirnya…. Sampai di airport jam 09:30. Kami mengunakan jasa ‘executive check-in’ dan kemudian menunggu keberangkatan yang masih 2 jam di Padma lounge, yang ternyata pemiliknya adalah pemilik TPH juga …. Tak ada delay – jadi kami sampai di Jakarta tepat waktu. Pulang – kembali ke rumah – dan kembali kerjaaaaaa…………………. Ber-rakit-rakit kehulu Ber-renang-renang ketepian Bersakit-sakit dahulu Bersenang-senang kemudian Kerja lagi - jalan-jalan lagi - kerja lagi - jalan-jalan lagi ..... 
Monday, 23 June 2008 – Odyssey Ini saatnya bersenang-senang. Hari ini: Indah, Agus, Alvin, Audrey; Pratiwi, mas Herry, Dhika; Nino, Bennaya; Ade; Agni, Ninik; akan ke Amuk Bay untuk naik Odyssey Submarine. Setelah check out, kami menitipkan barang-barang di concierge. Tepat jam 9:00 jemputan dari Odyssey datang, satu kijang dan satu L-300. Kami berangkat beriringan. Tapi L-300 terpaksa berhenti di pompa bensin, karena Alvin harus cepat-cepat ke ‘rest room’ untuk ‘pup’, sehingga rombongan kami jadi ‘terbelakang’. Mobil L-300 ngebut, mau mengejar kijang yang sudah lebih dahulu. Wuzzzzzz….. Ngeri juga. Tapi, mas Agni yang duduk di depan santai aja, tandanya dia bisa tidur. Ade, yang biasanya banyak ngomong juga diam, ternyata tidur. Agus dan Alvin yang duduk di bangku paling belakang juga nyenyak. Yang melek tinggal pak sopir (tentu saja) Indah, Audrey dan aku. Waktu tempuh dari Kuta ke Amuk Bay kira-kira 1.5 jam, dan ternyata sampai di Amuk Bay bersamaan dengan kijang. Kami dipersilakan menuju tempat registration. Satu-persatu kami ditimbang dan kemudian dipersilakan duduk untuk ngopi, nge-teh dan nye-snack J. Sambil minum dan makan snack, baca-baca brochure tentang Odyssey Submarine, dan kira-kira 15 menit kemudian, kami diminta memakai pelampung yang sudah disediakan, menyimpan tas-tas di dalam locker dan segera menuju kapal motor yang sudah disediakan. Brrrrrmmmm …… kapal motor berangkat. Isi kapal selain kami ber-12, ada 4 orany g jepang, 3 orang Russia, 4 orang Swedia, sapa lagi ya….. lupa aku. Masih ada beberapa orang lagi di kapal yang satunya lagi. Kapal kami merapat di badan submarine. Kami loncat satu-persatu. Kapal yang membawa kami kembali ke pantai, dengan membawa orang-orang yang baru saja ‘menyelam’. Sebelum masuk kapal kami di photo… cret-cret – 2x. Kemudian ‘co-pilot’ mempersilakan kami masuk dalam kapal – turun tangga dengan cara mundur… Agak takut juga, tapi ternyata tidak menakutkan … hehehe… Sampai di perut kapal. Kalau gak salah isi maximum penumpang adalah 36 orang. Disini kami boleh melepas pelampung. Semua duduk menghadap kaca dan dibawa menyelam pada kedalaman 100 feet. Kelihatan karang-karang yang ada dan yang sedang ditanam. Sedangkan untuk merangsang ikan-ikan agar mendekat ke submarine, diterjunkan 2 penyelam yang membawa makanan ikan. Perjalanan di dalam air ini memakan waktu 45 menit. Waktu menyelam habis. Kami bergantian photo dengan ‘sang kapten’ kapal, sambil menunggu giliran naik ke permukaan. Diluar sudah menunggu kapal yang akan membawa kami ke daratan untuk makan siang … sea food! Udang bakarnya besar-besar …. nyam-nyam-nyam… Jam 1:30pm kami dibawa kembali ke Kuta… sampai di Hard Rock hotel jam 3:00pm. Karena sudah tidak punya kamar lagi (kecuali kel. Indah & kel. Nino yang extend di Hard Rock), jadi kami duduk-duduk di lobby. Ade dan kel. Herry Setianto menunggu saat kembali ke Jakarta, sedangkan mas Agni dan aku menunggu jemputan dari ‘The Payangan Hideaway’. 
June 22, 2008 – Team building (termasuk kerja) Hari ini adalah acara team building, khusus staff FF. Yang artinya, suami, isteri dan anak-anak beracara bebas….. Jam 08:00, setelah sarapan, staff berkumpul di lobby. Jam 8:30, setelah lengkap semua, kami berjalan kaki menuju pantai. Pantai tepat dibelakang Kuta Paradiso Hotel – kami akan beracara di tempat tersebut.  Session demi session terlampaui dengan penuh tawa dan suka-cita. Lupa EBUGS, lupa RGA/DAG, lupa ER/Non-ER, lupa segala-galanya yang berhubungan dengan kerjaan…. Team building berakhir jam 11:30 dan dilanjutkan dengan …… pijat-pijatan. Bali VIP menyediakan pijat refleksi. Ada 4 tukang refleksi yang dibawa Bali VIP, setiap orang akan diurut selama 25 menit!!!! Lum ayan menghilangkan lelah. Aku mendapat giliran 4 orang pertama …. Wuih enak tenan. Otot-otot yang kaku di kendorin…. relax. Selesai urut, makan nasi box ‘Wardhani’ sambil memandang pantai. Habis makan kembali ke hotel naik mobil Bali VIP. Padahal jalan kaki juga dekat, tapi puanasnya itu lho. Setelah keringat kering, aku mandi dan kemudian bersama mas Agni jalan-jalan (dibawah terik matahari) ke Kuta Art Market. Dalam perjalanan kembali ke hotel, mampir ke Sonia untuk beli message oil dan aroma therapy. Sebelum masuk hotel, mendinginkan badan dengan segelas ice cappuccino di Starbucks. Masuk kamar hanya perlu menaruh belanjaan dan keluar kembali untuk jalan-jalan di pantai sambil menunggu sunset. Kami menyewa tikar dan duduk manis di pantai. Eeee… ditawari cutex cantik, Rp50,000 untuk kaki dan tangan. Yah, kapan lagi. Silakan di cutex.  Lagi-lagi sunset gagal. Awan lebih banyak dari kemarinnya. Jadi ya duduk-duduk sambil menunggu cutex kering, menikmati suasana pantai, sampai sinar matahari menghilang. Balik ke hotel, mandi. Baru selesai mandi sudah di-sms Indah untuk segera ke tempat gathering, karena ibu Representative sudah menunggu…. Weleh-weleh, belum juga ganti baju. Buru-buru ke lantai 3, ke tempat dinner bersama. Ternyata banyak yang belum ngumpul. Karena ada acara lain Ibu Rep segera membuka acara. Selanjutnya acara makan-makan, dengerin musik (organ tunggal dan penyanyi amatir yang suaranya OK), liat pertunjukan tarian Bali, games, door prize, joget …. Rameeeee. Acara diakhiri jam 10:30….. Sampai di kamar. Mulai bebenah, packing. Besok harus check out dari Hard Rock Hotel, pindah ke Ubud… …… free… free …. free….. besok free, free, free .... 
Saturday, June 21, 2008 – Day tour
Sarapan jam 07:00. Diruang makan bertemu dengan keluarga besar Ford Foundation (suami-isteri-anak-anak) yang baru datang malam kemarin, bersalam-salaman dan ber-hai-hai. Hari ini acaranya adalah ‘day tour’ bersama keluarga besar FF. Tahun lalu wisata Bali kami adalah: barong di Batu Bulan, Mas, Kintamani, Tanah Lot. Tahun ini ke: Bedugul – Ubud – Sukowati – GWK – Jimbaran.  Berangkat dari Hard Rock Hotel jam 8:30 dengan 2 bis, langsung menuju Bedugul. Mampir 30 menit di pasar Bedugul untuk lihat-lihat dan belanja (kalau mau). Aku belum pengin belanja, jadi liat-liat aja dan motret-motret. Di danau Bratan kami diberi waktu 45 menit. Kami sudah beberapa kali ke tempat ini, tapi tetap menikmati. Tetap potret-potret. Jam 11:30 kami semua sudah duduk manis di bis dan mulai bergerak menuju Ubud untuk makan siang. Perjalanan ke Ubud dari Bedugul akan makan waktu kurang lebih 1 jam, jadi …. Tidur dulu achhhhh…… Sampai di Ubud, langsung menuju Bebek Bengil Restaurant. Restaurant ini selalu penuh. Untung sudah ada reservasi untuk rombongan FF. Tempatnya enak, makanannya pun enak. Hampir  semua memesan menu ‘Bebek Bengil’ karena itu adalah menu andalan, yang adalah bebek goreng++. Beberapa orang yang tidak suka bebek memesan menu lain, termasuk aku, yang memesan ‘lemon chicken’ - ternyata tidak enak L Dari Ubud ke pasar Sukowati. Tahun lalu, ketika kami mengadakan outing, tidak sempat  ke pasar Sukowati, karena ada hari raya (lupa), sehingga pasar hanya buka setengah hari. Nah, kali ini harus ke Sukowati. Kalau gagal lagi, kasian para keluarga driver dan office boy, yang pasti pengin belanja di pasar yang ‘kondang’ ini J Di pasar Sukowati aku beli duster untuk para PRT, kaos untuk Bagus dan Anto. Apa lagi yang mau dibeli ya? Kayaknya gak ada lagi deh. Jadi kami jalan-jalan sambil liat-liat, sampai akhirnya ditawari tattoo. Wah, kenapa gak ya? Jadi duduklah dan betis kananku mulai digambari, harga tattoo-nya Rp25,000. Eeee… ternyata diikuti oleh Indah dan anaknya, Audrey; kemudian Pratiwi dan Nuning juga ikut membuat tattoo ditangannya … dan juga Dhika, yang di-tattoo gambar panda symbol WWF, yang ada pada kartu namanya. Sukowati selesai. Kami menuju daerah Celuk untuk beli oleh-oleh. Nama toko oleh-olehnya Putri Bali. Lagi-lagi, aku belum ‘nafsu’ beli-beli. Nanti-nanti saja ach, kalau udah mau balik Jakarta. Tujuan selanjutnya adalah Garuda Wishnu Kencana (GWK). Sampai di GWK sekitar jam 16:30. Udara sudah tidak begitu panas. Kelihatannya, pada masa liburan,  ketika ada rombongan tamu tiba, akan disambut dengan tari-tarian bali. Rombongan FF-pun disambut tarian. Kami diberi waktu sampai jam 18:30 untuk ‘berkeliaran’ di kompleks GWK. Karena sudah beberapa kali kesini, jadi mas Agni, Pratiwi, Esther, Nino dan aku duduk-duduk sambil minum cendol. Sueger tenan. Kira-kira jam 18:00, kami menuju ke theatre menunggu pertunjukan kolaborasi ‘tek-tekan’ dan barong. (Belakangan aku baru tau kalau tek-tekan itu adalah kecak yang menggunakan ‘kothekan’ – biasanya kan pakai mulut.) Pertunjukan selesai jam 19:30. Kami kembali ke bis dan bergerak ke Jimbaran untuk makan malam. Makan malam – tentu saja menunya seafood. Mas Agni dan aku satu meja dengan kel. Iwan dan kel. Imam. Karena Adventist, kel. Iwan tidak makan udang, clamp ataupun cumi. Yang mereka bisa makan adalah cah kangkung, ikan bakar dan sambal! Akibatnya makanan di meja kami berlimpah, sehingga kami tawar-tawarkan ke meja lain. Kembali ke hotel sudah sekitar jam 22:00. Masuk kamar dalam keadaan ‘sangit’ karena kena asep bakaran seafood. Cepat-cepat mandi dan tidur.
Thursday, June 19, 2008 – ‘ber-rakit-rakit kehulu… ‘ Bali, Bali, Bali ….. pergi ke Bali…. Eits, jangan seneng-seneng dulu, disana musti kerja lho, sebelum bersenang-senang J  Ade, Indah dan aku berangkat ke airport, beserta satu kopor besar dan 3 kopor sedang, naik Silver Bird yang berbagasi besar. Pesawat kami akan tinggal landas jam 11:35. Tapi karena takut: 1) macet; 2) ditambahi kerjaan; 3) pengin cepet bebas J, kami memilih berangkat jam 9. Ternyata jalanan lancar-car, sehingga sampai airport masih banyak waktu untuk ngopi dan nye-snack di Starbuck. GA-409 berangkat sesuai schedule dan mendarat di bandara Ngurah Rai 20 menit lebih cepat dari jadwal yang sebenarnya!!!! Apa pesawatnya ngebut ya di udara tadi? J Kami dijemput oleh Pak Panca dari Bali VIP yang meng-EO-i kantor kami selama ber-acara di Bali dan langsung dibawa ke Hard Rock Hotel. Aku mendapat kamar #5217, yang berarti di Block 5, Lantai 2, Kamar 17. Sedangkan Indah di Block 2, lantai 1; Ade di Block 6, Lantai 3. Weleh.. berpencar jauh-jauh. Masuk kamar, taruh barang-barang dan …. Sekali lagi weleh-weleh, pakai slipper hotel harus bayar Rp20,000++. Karena lantai dingin, ya beli satu lah!  Setelah menaruh barang-barang rapi, Ade, Indah dan aku ke Mercure Hotel yang bersebelahan dengan Hard Rock Hotel, untuk mengecek ruangan meeting yang besok pagi akan dipakai untuk pertemuan dengan ‘grantees’. Setelah sepakat dengan layout ruangan, kami diajak Tari, Sales Mercure, untuk melihat-lihat suite room dan deluxe, katanya: “. Siapa tahu, tahun depan outing-nya ke Mercure Hotel.” Dari Mercure Indah dan Ade ke Matahari Dept. Store membeli bungkus kado dan snack untuk bekal day tour, sedangkan aku kembali ke Hard Rock. Rebah-rebahan di kamar sambil nonton tv sampai menjelang magrib, sampai Indah menelpon. Indah, Ade, Esther dan pak Alex sedang ada di ‘Dulang’ Café. Mas Agni dan aku menyusul kesana, tapi Indah bilang: “Jangan makan disini mbak, makanannya gak enak.” Jadi kami pindah ke Warung Made untuk makan malam.  Tiba di Warung Made. Penuh, gak ada tempat kosong. Maklum jam makan malam. Kami menunggu dan ‘bersabar’ kurang-lebih 15 menit, dan akhirnya dapat tempat. Indah dan Ade tidak makan lagi, karena mereka sudah makan di Dulang Café. Mas Agni dan pak Alex makan nasi goreng, sementara aku pesan lumpia sayur saja. Makan malam selesai, kembali ke hotel, mandi dan tidur. Friday, June 20, 2008 – ‘… ber-renang-renang ketepian ….’ Jam 7:00 mas Agni dan aku menuju ruang makan. Ternyata Ade dan Pratiwi sudah ada disana, sedang mencari tempat agar bisa berkumpul untuk short briefing dari Esther. Ternyata gak jadi briefing, karena semalam Esther sudah sempat mem-brief pak Alex tentang alur acara pertemuan dengan grantees.  Jam 8:30 kami bersama-sama menuju Ubud Meeting Room di Mercure Hotel. Ternyata di dalam ruang pertemuan sudah ada beberapa grantee. Pertemuannya akan dimulai jam 9:00 dan berakhir jam 15:00. Secara menyeluruh, pertemuan berjalan dengan lancar. Dari satu session ke session berikutnya cukup lancar. Beberapa grantee malah bilang: “Pertemuan semacam ini harusnya 2 hari. Kalau hanya sehari kurang, karena banyak hal yang ingin dibicarakan…..” L Ternyata karena asyik, pertemuan berakhir jam 16:00. Setelah semua tamu pulang dan ruangan mulai dibereskan, kami meninggalkan Mercure, kembali ke Hard Rock Hotel.  Sementara aku ikut pertemuan, mas Agni jalan-jalan ke Denpasar, melihat ‘Gelar Budaya Bali’, kluyuran sendiri. Kasihan. Katanya baru balik dari Denpasar jam 15:00. Sekitar jam 17:30 kami menuju pantai menunggu sunset dan potret-potret. Ternyata sunset-nya tidak sukses, langit berawan banyak….
Malaekat Kecil  Jesha Chintabelle 5 bulan lalu Chinta melihat dunia Chinta yang mungil menambah suka-cita keluarga mempererat cinta-kasih ibu Yanti, bapak David dan mas Rangga Jesha Chintabelle kemarin, tepat di akhir bulan Juni dipanggil pulang oleh BAPA yang di surga oleh TUHAN yang sangat menyayanginya agar Chinta tidak lagi sakit karena jantungnya tak sempurna Ibu Yanti menangisi kepergian Chinta karena belum puas menggendongnya tapi Chinta tetap pergi pergi menghadap Sang Pencipta Jesha Chintabelle mungil terbaring kaku di peti kecil peti kecil berlapis kain putih peti kecil berhiaskan bunga segar Chinta bak malaekat kecil dengan baju putih panjang sepatu perak mungil, bandana pink Chinta bak malaekat kecil yang bersayap dan sinar di kepala Chinta tidur, tidur dalam damai Chinta tidur, dalam dekapan kasih ALLAH tapi tetap bangun, tetap hidup dalam hati terutama dalam hati ibu-bapak dan mas Rangga selamat jalan Chinta tidak ada sakit lagi yang kau derita yang ada hanyalah suk-cita bersama-NYA selamat jalan Chinta 1 Juli 2008
17 May 2008 - Sabtu Jam 04:00 pagi mas Agni dan aku sudah berada didalam taxi menuju bandara. Schedule GA-509 jurusan Balikpapan adalah jam 06:05. Baru saja keluar Taman Asri, mas Agni baru ‘ngeh’ kalau handphone-nya tertinggal. Jadi kami balik lagi….. L Aku sudah takut kalau terlambat. Untung jalanan masih sepi karena masih pagi. Sampai di airport sekitar jam 05:00-an. Setelah urusan check-in selesai, kami mencari penghangat perut di Starbuck. Jam 05:45 panggilan boarding dan tepat jam 06:05 pesawat mulai bergerak menuju runway dan setelah clear …. wuinggggg pesawat mengangkasa. Waktu tempuh ke Balikpapan, menurut pilot, memakan waktu 1 jam 50 menit. Makan pagi dihidangkan dengan pilihan nasi atau omelet. Aku pilih omelet. Makan selesai, perut kenyang, kantuk datang, yach tidur aja ach. Lumayan, tertidur setengah jam. GA-509 mendarat mulus di bandara Sepinggan, Balikpapan. Sambil nunggu bagasi, mas Agni menelpon pak Bejo, yang ditugasi menjemput kami. Baik mas Agni maupun pak Bejo belum pernah bertemu, jadi tanda yang diberikan adalah: “Pak Bejo, saya pakai topi merah ya.” (jadi ingat cerita si topi merah J). Pak Bejo akan menemani kami selama di KalTim, sebagai driver merangkap guide. Mas Agni bilang ke pak Bejo: “Pak, ini bukan perjalanan dinas lho. Saya mau jalan-jalan aja melihat-lihat KalTim.”  Keluar dari Bandara Sepinggan kami langsung menuju Samarinda. Pak Bejo mengambil jalan lama, agar bisa membawa kami ke Bendungan Samboja, bendungan yang dibangun PU, kalau nggak salah airnya untuk kebutuhan kota Balikpapan. Sayang sekali, didekat bendungan ini dibuka tambang batubara baru dan dikhawatirkan akan mencemari air dibendungan. Jalan menuju bendungan Samboja sepiiiiii dan …. sampai di bendungan udaranya puanaaasssss sekaleeeee. Gak bisa berlama-lama diluar J Potret-potret sebentar dan kami melanjutkan perjalanan. Jalan lama Balikpapan-Samarinda yang kami lalui akan bertemu dengan jalan baru yang menebus ‘Bukit Suharto’. Nah di jalan ‘lintas’ Balikpapan-Samarinda ada restaurant ‘Tahu Sumedang’ dan kami makan disini. Jauh-jauh ke Kaltim kok ya ketemunya tahu Sumedang to yaaaaa…. J Kami makan ikan goreng, sambal dan lalapan. Satu orang dapat satu ikan. Tak lupa dua porsi tahu Sumedang dan minumnya kelapa muda pakai gula merah. Wuihhhh, sueger tenan rek.  Melanjutkan perjalanan melalui Bukit Suharto, yang konon, pohon-pohon dibagian dalam sudah gundul dan yang dihijaukan hanya bagian luar saja, yang dipinggir-pinggir jalan….. J Tertipu ….. Jalan di bukit Suharto ini berkelok-kelok, mirip kelop ampek-puluh-ampek :D Perut kenyang, mobil dingin, jalanan mulus…… zzzzzzzz….. aku tertidur.  Bangun-bangun sudah sampai di ‘Stadion Utama Kaltim’ di Samarinda, yang rencananya mau dipakai untuk PON bulan Juli 2008 nanti. Weleh-weleh, mau dipakai bulan Juli kok belum ada tanda-tanda selesai. Bangunan stadion utamanya megah sekali. Yang mendesign anak-anak ITS, Surabaya dan adviser merangkap consultant adalah pak Purnomohadi J Sampailah kami di Samarinda Seberang. Jalanan menurun dan dari atas terlihat sungai Mahakam membentang luas sekali seperti lautan. Untuk menuju kota Samarinda, harus menyeberang sungai Mahakam. Sebelum nyeberang, kami berhenti disebuah restaurant yang bagus lokasinya, di ‘lereng’ sungai Mahakam, namanya ‘Lipan Hill’. Kami berhenti untuk nge-teh, ngopi dan makan … ech… minum ice cream, sambil melihat lalu-lalang transportasi air di sungai Mahakam. Yang paling sering melintas adalah tug-boat yang menarik pontoon berisi batubara (tentu saja …. J ) Akhirnya kami menyeberang sungai Mahakam. Sebelum ke hotel, pak Bejo mengajak kami keliling kota Samarinda, lewat kantor PU, lewat pasar … lewat mana lagi ya, aku lupa. Akhirnya jam 3pm kami masuk Hotel Bumi Senyiur, salah satu hotel besar di Samarinda selain Hotel Mesra. Pak Bejo akan menjemput kami sekitar jam 7pm, untuk cari makan malam. Masuk kamar, ganti baju dan …. duh nyaman sekali meletakkan badan di tempat tidur dan tak lama kemudian …. zzzzzz…. baru bangun sekitar jam 6pm dengan badan yang lebih segar. Makan malam. Tidak tau mau makan apa dan dimana. So, kami pasrah saja sama pak Bejo mau dibawa kemana. Pilihan pak Bejo adalah restaurant ‘Hary Crab – Sari Laut’. Menu makan malam adalah: udang (guede-guede) goreng mentega, baronang bakar, kakap merah goreng. Sementara pak Bejo pesan bebek goreng! Piye to. Lucunya, yang punya restaurant ini orang Jawa, pegawainya semuanya orang Jawa. Jadi aku rada kaget ketika baru datang dan ditanya sama ‘waitress’: “Wong pira bu?” Tak kirain ngomong pakai bahasa Samarinda, taunya ngomong bahasa Jawa…. Hehehehe… J  Habis makan mau ngapain ya. Diputer-puterin lagi sama pak Bejo, melihat Samarinda diwaktu malam. Menurut pak Bejo, Samarinda tidak segemerlap Balikpapan. Namanya saja ‘samar-samar-indah’ … hehehe…. Tak banyak tempat rekreasi di Samarinda ini, jadi ‘tempat rekreasi’ yang selalu penuh adalah mall. Kalau gak salah ada Ramayana Mall. Karena gak ada yang bisa diliat lagi, jam 9pm kami sudah sampai di hotel kembali. Hari pertama di Kaltim, tepatnya di Samarinda, berakhir. 18 May 2008 - Minggu |
|